Home / Berita / Soempah Pemoeda dan Intoleransi Beragama

Soempah Pemoeda dan Intoleransi Beragama

“Satoe: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe, bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Doea: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Tiga: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” (Teks Naskah “Soempah Pemoeda”, Djakarta 28 Oktober 1928). Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia senantiasa memperingatinya sebagai Hari Sumpah Pemuda. Hari ini, Rabu 28 Oktober 2015, sudah 87 tahun usianya. Indonesia bermakna “indo” yang artinya beraneka-ragam (terdiri atas suku, agama, ras, dan antar-golongan) dan “nesia” adalah negara/bangsa. Para pemuda Indonesia kala itu mendeklarasikan tekad persatuan dan kesatuan dalam “Satoe Tanah Air , Satoe Bangsa, dan Satoe Bahasa yaitu Indonesia”.
Kendati NKRI dari Sabang hingga Merauke baru memproklamasikan kemerdekaannya 17 tahun kemudian, Sumpah Pemuda adalah merupakan bukti sejarah bangsa ini sesungguhnya sudah terlahir pada 28 Oktober 1928. Sudah sepatutnya seluruh elemen rakyat Indonesia senantiasa memperingati 28 Oktober 1928 sebagai hari lahir (dimulainya nama resmi bangsa) Indonesia, dan 17 Agustus 1945 sebagai Hari Proklamasi Kemerdekaan. Proses kelahiran mana merupakan buah hasil perjuangan dan tumpah darah rakyat Indonesia selama dalam penindasan kaum kolonial. Ketertindasan membuat para pemuda termotivasi, lalu berikrar dan bertekad segera melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme guna mengangkat harkat, derajat, dan martabat bangsa. Ini akhirnya berhasil menghantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Berlandaskan ikrar dan tekad Sumpah Pemuda, tentu memiliki makna dan logika seluruh organisasi pergerakan di Tanah Air, bukan hanya organisasi kepemudaan semata, bahwa dalam berperilaku sejatinya wajib mengacu dan berpedoman kepada hasil kongres Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Patut disesali jika tekad yang telah diikrarkan 87 tahun silam tersebut kini telah dinodai segelintir orang berperilaku intoleran dalam beragama dan beribadah, sebagaimana terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua, beberapa waktu lalu.
Ironisnya, padahal kurang dari hitungan tiga bulan, perilaku intoleransi beragama ternyata merembet dan terulang pada 13 Oktober 2015. Kali ini, lokasi intoleransi terjadi di ujung barat Bumi Pertiwi, yakni di Kabupaten Aceh Singkil. Aksi intoleran itu memakan korban satu orang tewas dan gereja dibakar. Sumpah, artinya pernyataan resmi sambil bersaksi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bertekad melakukan sesuatu untuk menguatkan suatu kebenaran dan kesungguhan; berani menderita jika janji/ikrarnya tidak dilaksanakan. Pemuda adalah orang muda (pria, perempuan) dan remaja/teruna.
Sumpah Pemuda berarti, janji atau ikrar atau ungkapan kebulatan tekad dari hati sanubari paling dalam, di dada setiap pemuda untuk merebut dan mempertahankan, lalu menyejahterakan rakyat Indonesia. Itu melalui upaya memelihara persatuan dan kesatuan menuju cita-cita terealisasinya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, sekaligus lestarinya NKRI yang bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu.
Keberagaman
Intoleransi, lawan dari kata toleransi. Kalau toleransi memiliki sifat dan arti positif, yakni manusia yang memiliki tenggang rasa, empati, sifat tolong-menolong (gotong royong) antarsesama dan saling mengasihi. Intoleransi memiliki arti kebalikannya, yakni tidak memiliki rasa toleran atau ketiadaan tenggang rasa. Keberagaman dalam kebinekaan tentu suatu hal atau kondisi yang sangat indah, jika memang kita mau melaksanakan dengan hati bersih, tulus ikhlas, serta senantiasa bersikap, berperilaku, dan berpikir positif. Merasa diri sejajar, senasib sepenanggungan, terutama tidak merasa sebagai mayoritas dan ataupun minoritas. Kalaupun harus terkondisi sebagai (kelompok) mayoritas, si mayoritas wajib untuk mengasihi dan menyayangi si minoritas. Begitu juga sebaliknya, si minoritas harus menghormati dan menghargai si mayoritas. Hal ini terkait agama adalah merupakan ajaran kasih bermateri tentang ajaran kebaikan, kebenaran, saling tolong antarumat beragama.
Peristiwa Tolikara dan Aceh Singkil memang sudah terjadi. Jika memang kita merasa sebagai anak bangsa yang sudah mengikrarkan tekad melalui Sumpah Pemuda dan Pancasila, seharusnya menyudahi situasi dan kondisi yang tiodak menyenangkan dari peristiwa itu. Sumpah Pemuda sangat menentang keras intoleransi beragama. Dengan demikian, Indonesia nihil dari perilaku atau aksi intoleransi yang berpikiran, berpandangan dan berperilaku sesaat, sesat, sempit, egois, radikalis, picik dan/atau merasa seolah diri dan ajarannya yang paling baik. Lupakan masa-masa lalu nan kelam yang pernah menodai sejarah bangsa.
Kini, marilah (kita) sama-sama senantiasa bersifat, bersikap, dan berperilaku toleran. Saling memberikan hati, saling mengasihi, bergotong royong dan berempati. Dengan berpedoman kepada “Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, yaitu Indonesia”, sebagaimana pernah ditekadkan para pemuda Indonesia 87 tahun silam. Selamat merayakan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 dan senantiasa menjaga dan meningkatkan toleransi beragama di Indonesia.
Penulis adalah alumnus FHUI tinggal di Medan.
Tulisan ini telah diterbitkan di Sinarharapan.com pada 28 Oktober 2015.
Source link http://indonesia.ucanews.com/2015/10/29/soempah-pemoeda-dan-intoleransi-beragama/

About sulton lubis

Check Also

Dialog Lintas Agama, Jokowi: Kita Bersatu dalam Kebhinekaan

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi), hari ini secara mendadak mengundang para tokoh lintas agama …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *