Home / Berita / Falsafah ‘Satu Tungku Tiga Batu’ Masyarakat Papua

Falsafah ‘Satu Tungku Tiga Batu’ Masyarakat Papua

Pernahkah kalian mendengar kalimat ‘Satu Tungku Tiga Batu’?
Kalimat dia atas merupakan falsafah yang terlahir sebagai wujud toleransi yang dijadikan pegangan oleh masyarakat Papua dalam kehidupan bermasyarakat mereka untuk saling
menghargai antar pemeluk beragama.
Falsafah yang lahir di Kabupaten Fakfak (Papua Barat) ini menganalogikan sebuah tungku sebagai lambang kehidupan masyrakat Fakfak, yang di bawahnya ditopang dengan tiga batu, yaitu simbol dari tiga agama yang terdapat di Kabupaten Fakfak, yaitu; Islam, Kristen Protestan daan Kristen Katolik. Nila-nilai yang bisa ditarik dari falsafah ‘Satu Tungku Tiba Batu’ yakni sebuah kehidupan yang dapat berjalan harmonis, dengan kekuatan persatuan dan rasa saling toleransi diantara umat beragama yang diwakili dengan ketiga agama tersebut di Kabupaten Fakfak. 
Berdasarkan falsafah yang telah dijaga sejak tiga abad lalu ini, kehidupan antar umat beragama di Kabupaten Fakfak berjalan dengan sangat harmonis dan selalu dilandasi dengan rasa kekeluargaan, hingga tak pernah sekalipun terjadi masalah yang dapat menyebabkan perpecahan di daerah tersebut.
Berkaca dari falsafah ‘Satu Tungku Tiga Batu’ yang dipegang teguh masyarakat di Papua ini, maka seharusnya bagi kita warga negara Indonesia yang pastinya mencintai kedamaian, menjadikan falsafah tersebut sebagai pelajaran untuk membangun rasa kekeluargaan dan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, demi terwujudnya Indonesia yang selalu dinaungi kedamaian dan ketentraman. (Baca juga “Satu Tungku Tiga Batu” Wujud Toleransi Umat Beragama Di Papua)
(Ed: Sarasdewiq)
(Foto diambil dari ariflukman.com)

About sulton lubis

Check Also

Dialog Lintas Agama, Jokowi: Kita Bersatu dalam Kebhinekaan

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi), hari ini secara mendadak mengundang para tokoh lintas agama …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *